Surat Untuk Calon Istri Part 2

7 views

Tentang Pentingnya Keyakinan.

Catatan ini lumayan panjang, karena menjelaskan tentang keyakinanku akan keberadaanmu. Sebelum kamu mulai membacanya, lebih baik kamu nyeduh teh dulu sana, sekalian ambil cemilan. Biar ga bosen maksudnya. Mayoritas cewe kan suka ngemil, dan sepertinya kamu juga suka ngemil kan. Calon suamimu ini kan pedagang cemilan, kalau kamu ga suka ngemil, siapa nanti yang bakal jadi kelinci percobaan yang memiliki tugas tukang icip-icip kalau aku punya resep baru hehehe..

Selamat malam.. calon istriku tersayang..
Gimana kabarmu malam ini?
Bagaimanapun harimu siang tadi, selalunya aku berharap, kamu tetap mampu tersenyum yaa..

Btw.. ini adalah catatan kedua yang sengaja aku tulis untukmu. Setelah kemarin malam aku beranikan diri menyapamu untuk yang pertama kali, dengan mengambil resiko akan dicap sebagai orang aneh. Karena menyapamu lewat sebuah tulisan, memanggilmu dengan sebutan “calon istriku” padahal aku belum tahu siapa sebenarnya kamu.

Bahkan mungkin kamu sendiri saat membaca catatan ini akan berpikiran sama, menganggapku orang aneh. Tidak masalah bagiku.
Memang begitulah akibatnya, kalau memiliki pemikiran lain dan berani mengexplorenya ke publik. Masih mendingan cuma dianggap aneh, dari pada dianggap GILA hehe..

Calon istriku.. Adakah terlintas dalam benakmu, rasa ingin tahu kenapa aku berani menulis sesuatu untukmu seperti kemarin, yang “kamu” dalam tulisan itu aku sebut sebagai “calon istriku” Padahal aku belum tahu siapa kamu?

Jika iya, jawabannya ada dalam catatan kedua ini.

Keyakinan.
Yup, hanya sebuah keyakinan yang aku miliki. Tidak lebih.

Aku dilahirkan di sebuah keluarga yang menganut agama Islam. Jujur aku bukanlah seseorang pandai dalam urusan agama. Namun sejak kecil oleh Ibuku dan mendiang ayah, aku diajari membaca Al-Qur’an. Kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT. sebagai pedoman untuk kita menjalani hidup di dunia. Aku juga bukan orang yang pandai membaca Al Quran, bacaanku masih terbata-bata. Tapi dalam keterbatasanku dalam urusan agama dan keterbata-bataanku membaca Al Quran, Aku pernah membaca beberapa ayat yang kalau diterjemahkan ke bahasa kita itu seperti ini,
“dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah”.

QS. Adz Dzariyat ayat 49

dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.

QS. An Naba’ ayat 8 dan ayat2 lainnya.

Aku yakin kamu tahu, Al Quran adalah Qalam Allah SWT. Yang salah satunya berisi janji-Nya. Kamu juga tahukan, bahwa janji-Nya selalu benar?
Sebagai orang awan dalam urusan agama, aku cuma berfikir simpel aja, bahwa DIA menjanjikan pada setiap manusia seorang pasangan.

So.. ga salahkan, kalau aku benar-benar meyakini Janji-Nya dengan percaya SEYAKIN-YAKINNYA bahwa, entah dimanapun saat ini keberadaanmu. Aku percaya, aku punya kamu seseorang yang Oleh-Nya telah dilahirkan ke dunia yang pada seri tulisan ini aku menyebutnya “kamu, calon istriku”. Kelak jika sudah waktunya kita pasti akan bertemu, saling mengaggumi satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk hidup bersama.

Memang ga bisa dipungkiri, dalam kehidupan nyata terkadang ada kejadian yang sepertinya tidak sesuai dengan ayat itu. Misalnya, Ada seseorang ( laki-laki dan wanita) yang belum sempat menikah namun sudah terlebih dahulu dipanggil oleh-Nya. Aku pernah punya teman yang ditakdirkan seperti itu, sahabat dekat malah. Atau ada juga seseorang ( laki-laki dan wanita) yang secara usia sudah pantas atau malah sudah lewat, namun belum juga menikah karena belum menemukan pasangan/jodohnya. Aku juga punya kenalan yang seperti ini. Entahlah, itu salah satu rahasia-Nya, aku tak bisa menjelaskan tentang hal yang seperti ini. Terlepas dari dua kejadian itu, bukankah lebih baik jika kita berbaik sangka saja Pada-Nya. Berpikiran positif dengan menanamkan keyakiyan pada hati kita untuk benar-benar percaya, bahwa kau ada untuk aku dan aku ada untuk kamu. Kita sama-sama ada, untuk saling melengkapi dan menyeimbangkan.

Jujur aku sudah lupa bagaimana awalnya aku memiliki ide untuk menulis seri catatan ini. Kalu ga salah inget, ide ini pertama kali muncul sekitar akhir Maret 2015, namun karena calon suamimu ini sok sibuk, jadi baru bisa me-realisasikannya sekarang. Seri Catatan ini Mungkin jumlahnya akan cukup banyak. Tapi dalam pikiranku, aku akan terus menulis catatan ini, sampai catatan ini dengan ijinNYA akan menemukanmu.

Hey.. kamu percaya ga dengan insting?
Kalau kamu percaya, sepertinya tidak lama lagi Tuhan akan memepertemukan kita. Kalu tidak akhir tahun ini, selambat-lambatnya mungkin awal tahun depan.
So.. sekali lagi aku ingetin, jalani hari-harimu dengan baik ya, jangan membuang-buang waktu dan energi untuk sesuatu yang diluar kendali kita.
Jangan menungguku, jangan mencariku..
Biarkan tulisanku ini (Catatan untuk kamu, Calon istriku) yang akan menemukanmu..

NB: Jika kamu memiliki pertanyaan,
Mas.. iya, mas memilih menulis untuk aku, dengan harapan tulisan-tulisan Mas akan menemukanku.
Lalu apa yang harus Ade lakukan untuk Mas, untuk kita?

Kamu boleh meng-aminkan apa permintaanku, apa saja permohonanku yang selama ini aku panjatkan kepada-Nya.
Itu saja, bagiku sudah lebih dari cukup De…
Dan ketika nanti Tuhan telah mengijinkan tulisan ini menemukanmu,
Aku percaya, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.

Hehehe tulisan ini serius banget ya…
Maaf lah, aku emang ga pandai becanda. Tapi aku usahain, pada surat yang lain aku akan menulis yang tidak seserius ini hehe..

Waduh udah malem de, cukup sampai sini dulu ya..
Met rehat.. Calon istriku tersayang..

Tertanda,
Calon suamimu

Leave a reply "Surat Untuk Calon Istri Part 2"

Author: 
    author